Senin, 28 Januari 2013

Berikhtiar dengan Kesyirikan


Ia sudah berusah berobat ke setiap dokter, tapi Allah belrum menakdirkan kesembuhan orang ini lewat tangan-tangan para dokter tersebut. Akhirnya ia pergi kepada seseorang yang biasa bertawassul (mencari perantara), meminta bantuan, dan bertabarruk (mencari berkah) kepada para penghuni kubur. Lalu Allah menakdirkan kesembuhan untuknya lewat tangan paganis ini.
Apakah pergi kepada paganis ini diperbolehkan? Hal ini terulang beberapa kali; dan orang-orang menjadikannya sebagai ibrah (yang diikuti), serta tertanam dalam benak mereka bahwa si paganis bias menyembuhkan manusia dengan caranya berpa perbuatan-perbuatan menyekutukan Allah – kita berlindung kepada Allah dari berbuat syirik; apakah hukum agama mengenai hal ini?

Jawaban:
Diharamkan pergi kepada orang yang melakukan amalan-amalan syirik berupa berdoa kepada penghuni kubur dan meminta bantuan kepada mereka untuk meminta kesembuhan dengan doa dan ruqyahnya atau sejenisnya, walaupun sebagian orang mendapatkan manfaat darinya. Karena hal itu (hanyalah) adakalanya bertepatan dengan takdir, lalu disangka bahwa kesembuhan itu karena paganis ini. Adakalanya penyakitnya akibat perbuatan setan yang mengganggu supaya seseorang bertanya kepada orang-orang musyrik dan pergi (berobat/meminta pertolongan) kepada mereka. Manakalah ia bertanya kepada mereka, maka setan tidak mengganggunya lagi.

Sumber : http://sekitarislam.wordpress.com

Berfatwa Tanpa Ilmu



Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
“Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”
Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata kepada sebagian muridnya:
“Hati-hati engkau, (jangan, -pen.) mengucapkan satu masalah pun (dalam agama pen.) yang engkau tidak memiliki imam (salaf, -pen.) dalam masalah tersebut.”

Beliau rahimahullahu juga berkata dalam riwayat Al-Maimuni:
“Barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak ada imam atasnya, aku khawatir dia akan salah.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:
“Adapun para imam dan para ulama ahlul hadits, sungguh mereka semua mengikuti hadits yang shahih apa adanya bila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat, generasi sesudah mereka (tabi’in) atau sekelompok dari mereka. Adapun sesuatu yang disepakati oleh salafush shalih untuk ditinggalkan maka tidak boleh dikerjakan. Karena sesungguhnya tidaklah mereka meninggalkannya melainkan atas dasar ilmu bahwa perkara tersebut tidak (pantas, -pen.) dikerjakan.”
(An-Nubadz Fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 113-115)

sumber : http://sekitarislam.wordpress.com

Sabtu, 26 Januari 2013

Gerak Iman

                                          

Oleh Mohammad Damami

Seperti pernah penulis tulis dalam majalah ini beberapa waktu yang lalu, bahwa apa yang disebut “perubahan” tidak pernah  dapat dihindari dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia. Mau tak mau, suka atau tidak, siapa saja pasti akan   menghadapi apa yang disebut “perubahan” itu. Paling tidak ada 2 (dua) pilihan yang harus diputuskan ketika menghadapi   fenomena “perubahan”, yaitu bersikap pasif dalam menghadapinya dengan resiko akan ada kemungkinan digulung oleh “perubahan” itu sendiri, atau bersikap pro aktif dalam menghadapinya dengan keuntungan ada kemungkinan mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.

Pada hakikatnya, terjadinya seluruh perubahan di kalangan makhluk, manusia terutama,  adalah disebabkan adanya “gerak” di dalamnya. Apakah yang disebut “gerak” yang begitu menentukan dalam seluruh proses   perubahan tersebut?

Ada sekurang-kurangnya 3 (tiga) dimensi yang dipahami dan disadari oleh manusia, yaitu: ruang (space), waktu (time), dan kekuatan (energy). Jika dimensi ruang, waktu, dan kekuatan ini saling berkait dan dekerja, maka timbullah apa yang disebut “gerak” itu. Dimensi ruang dapat diukur lewat satuan-satuan ukuran (panjang, lebar, tinggi, besaran/volume, luas). Misalnya milimeter (mm), centimeter (cm), meter (m), hektare (ha), kilometer persegi (km), dan sebagainya. Sementara itu dimensi waktu diukur  lewat “pengertian waktu” (dahulu, sekarang, yang akan datang) atau lewat satuan-satuan ukuran (seperti   detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, millenium).

Sedangkan dimensi kekuatan diukur lewat satuan-satuan ukuran seperti ampere (A), watt (W), ohm (W) kecepatan cahaya (c), medan elektrik (E)t dan sebagainya. Sementara itu, dalam pengertian sederhana sehari-hari, disebutlah istilah-istilah “perubahanruang/tempat”,  “perubahan waktu”, “perubahan tenaga”, “perubahan keadaan/ kondisi”, “perubahan suasana”, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan “gerak” seperti disebutkan di atas, maka faktor dimensi kekuatan (energi) mestilah harus dikedepankan dan difungsionalisasikan secara nyata. Teknik praktis untuk memfungsionalisasikan dimensi kekuatan (energy) tersebut secara urut dan berjenjang meliputi: iradat/ kehendak, niat, rencana/planning, program, dan aksi. Pertama, iradat/kehendak. Asal iradat/kehendak ini adalah keinginan. Kehendak itu pada hakikatnya adalah hasil perasan dari berbagai keinginan yang berkembang. Jumlah iradat/kehendak ini sudah relatif lebih terbatas di bandingkan jumlah keinginan yang ncul yang tidak habis- habisnya. Kedua, niat. Niat pada hakikatnya adalah kehendak yang telah memuncak. Jumlahnya lebih sedikit lagi. Ketiga, rencana/planning. Rencana adalah penetapan berbagai niat yang mulai dinyatakan dalam tampilan, misalnya diucapkan atau dituliskan. Keempat, program. Program adalah rencana yang telah ditapis/dipilih dan disusun secara sistematis serta telah ditetapkan tahapan-tahapan pelaksanaannya berikut segala kemungkinan yang terjadi. Kelima, aksi. Aksi adalah pelaksanaan program sesuai dengan kisi-kisi yang termuat dalam program. Kelima hal inilah yang perlu diurutkan pelaksanaannya jika seseorang ingin menghasilkan “gerak” apa pun juga.

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari terdengar keluhan, bahwa dirinya telah gagal meraih sesuatu. Namun, setelah ditelusuri, ternyata orang yang bersangkutan baru melaksanakan beberapa komponen saja dari kelima komponen di atas. Misalnya, ada yang hanya sekedar memiliki iradat/ kehendak dan niat, tetapi dia gagal atau tidak bersemangat menyusul rencana/planning yang baik. Yang lain lagi ternyata  kegagalannya disebabkan tidak urutnya pelaksanaan dari kelima komponen di atas.Misalnya, ada orang punya iradat/kehendak, namun langsung dia lakukan aksi. Dia tidak mempedulikan komponen niat, rencana/ planning, apalagi program yang jelas.

Bagi orang beriman ada sebuah renungan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berbunyi demikian (Q.s. Al-Baqarah [2]: 225): laa yuaakhidzukumu-’l-laahu bi- ‘l-laghwi fii aimaani-kum wa laakin yuaakhidzukum bi maa kasabat quluubukum = Dia (Allah) tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu  sengaja. Tetapi Dia (Allah) akan menghukum kamu karena apa yang diperbuat hati-hati kamu. Yang dimaksud “apa yang  diperbuat hatihati kamu” di sini adalah niat. Karena itu, bagi orang beriman masalah niat menjadi hal yang begitu penting.  Dalam niat benih untuk “gerak” sudah mulai berjalan. Bak sebuah kerja mesin, maka roda-rodanya sudah mulai berputar antara  satu dengan yang lain. Tinggal meneruskan menjadi rencana/planning, program, dan akhirnya aksi. Karena itu pula, bagi orang  beriman memiliki “niat” itu penting sekali kalau ingin dirinya berubah. Orang beriman tidak sekadar dianjurkan agar kaya  keinginan atau hidup di bawah bayang-bayang mimpi saja, melainkan harus segera diperas menjadi iradat/kehendak dan tegas dalam bentuk niat.

Jika diteliti lebih mendalam, ternyata benar bahwa mulai dari komponen “niat” tumbuhnya energi secara  fungsional. Karena itu benarlah sabda Nabi yang mengatakan: innama-’l-a’maalu bi-’n-niyyati wa innamaa li-imri-in maa  na-waa = Bahwasanya segala amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya bagi seseorang manusia tergantung apa yang telah  diniatkannya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Niat adalah kerja konkret hati. Di sinilah, mulainya gerak untuk mengubah  apa saja bagi diri manusia untukmasa-masa selanjutnya dalam hidup dan  kehidupannya. Orang beriman diberikesempatan  untuk melakukan “gerak” yang dinahkodai oleh niat yang ada dalam hatinya. Wallahu a’lam bishshawaab.

Hidup Menjaga Martabat


Oleh Mohammad Damami

Kehidupan dewasa ini sebenarnya merupakan daur ulang kehidupan masa lalu. Dalam Ilmu Sejarah dikatakan, bahwa sebenarnya sejarah manusia itu berulang, walaupun di sana-sini ada perubahan baru. Daur ulang yang berperubahan baru tersebut disebut daur spiral.

Pada zaman sebelum Al-Qur’an diturunkan di Makkah kepada Rasulullah Muhammad saw, orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan berdagang antara Yaman dan Syam (Syria) yang kota Makkah sebagaikota transitonya  (Quraisy [106]: 1- 2). Kehidupan berdagang pada waktu itu berlaugsung keras yang bercirikan persaingan antarsuku dan kafilah,  suasana wilayah Semenanjung Arab yang memiliki iklim yang sering kali ekstrem (kalau sedang beriklim panas, maka udaranya sangat panas dan kalau sedang beriklim dingin, maka udaranya sangat dingin), dan watak yang terbentuk yang serba keras seperti suka berperang, merampas kemerdekaan suku lain, mengurangi ukuran dan timbangan, dan sebagainya. Dalam kondisi kehidupan seperti itu, logis kalau banyak orang mencari berbagai macam cara agar keselamatan dalam kehidupan berdagangnya terjaga dan ketakutannya menghadapi segala macam cobaan hidup yang keras di atas menjadi menipis, bahkan sampai hilang sama sekali. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah menuju sesembahan berupa berhala yang dibuat dari bebatuan atau bahkan dari gundukan pasir (Majid ‘Ali Khan, Muhammad saw, 1985: 30). Jumlah berhala yang diletakkan mengelilingi bangunan Kakbah tidak kurang dari 360buah banyaknya, demikian menurut Majid ‘Ali Khan. Mula-mula berhala itu dianggap hanya sekedar “perantara” pormohonan kepada Tuhan, lama-lama berubah menjadi benda-benda yang dipertuhankan.

Ketika benda-benda berhala di atas telah dianggap sebagai “Tuhan”, pada hakikatnya potensi nalar masyarakat Arab waktu itu telah “mati”. Bayangan-bayangan metafisis dan kegaiban yang tidak jelas arahnya dan tidak jelas pula pengertiannya berseliweran dalam ruang batin masyarakat Arab waktu itu. Lalu oleh para sejarawan disebutlah dengan istilah zaman “ jahiliah”, zaman “kebodohan”. Dalam kondisi seperti ini dapat dikatakan manusia Arab pada waktu itu telah “jatuh martabatnya” di depan benda-benda berhala. Lebih tinggi martabat benda berhala dibandingkan dengan sifat kemanusiaan manusia Arab waktu itu.

Menghadapi realitas keyakinan yang sangat memerosotkan martabat kemanusiaan manusia seperti di atas, Allah SwT tidak menghendakinya terus-menerus terjadi. Maka, Allah SwT berkenan melenyapkan kondisi yang sangat tidak sewajarnya itu dengan menurunkan ajaran wahyu berupa perintah agar memegang teguh keyakinan tauhid (keyakinan meng-Esakan Allah SwT) dan hanya beribadah kepada Allah SwT yang bersifat gaib, yaitu berupa Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi serta Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh isi alam semesta ini (Quraisy [106]: 3). Dengan ajaran tauhid tersebut diputar kembali setinggi 180° dari posisi manusia yang begitu rendah di depan batu atau benda berhala menjadi berposisi luhur di depan makhluk apapun wujudnya di atas bumi ini, bahkan di ruang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Seluruh isi planet bumi ini diserahkan Allah SwT kepada manusia, terserah untuk keperluan apa dan diperlakukan seperti apa pun pula, asal bersitat ma’ruf, positif, konstruktif, dan produktif (Al-Baqarah [2]: 29).

Dewasa ini, awal abad ke-21 Masehi ini, tampaknya “berhala-berhala baru” bermunculan di sana-sini dalam kehidupan. Kalau diamati secara lebih mendalam, berhala- berhala baru tersebut meliputi, pertama, paham-paham atau isme-isme yang murni diproduksi oleh penalaran yang tidak/kurang dijiwai cahaya ketuhanan. Contohnya, seperti materialisme (paham yang menekankan keunggulan faktor-faktor material di atas hal-hal yang bersifat spiritual yang terkandung dalam metafisika, nilai, fisiologi, epistemologi, penjelasan historis; Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1996: 593), kapitalisme (paham yang menekankan peranan kapital/modal dalam produksi barang; Lorens Bagus, ibid.: 391), dan hedonisme (paham yang menyatakan bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia; Lorens Bagus, ibid.: 232). Kedua, ilmu pengetahuan dan anak kandungnya, yaitu teknologi. Contohnya, seperti teori (yang telah terbukti atau masih hipotetis), rumus (berupa dalil, postulat, aksioma), dan kerja istern (berupa metodologi, manajemen, dan analisis proses). Ketiga, aktivitas globalisasi. Perwujudan globalisasi menjurus pada perjuangan kepentingan yang bertopeng humanisme (semacam hak-hak asasi manusia/HAM, kelestarian lingkungan hidup, etika global) dalam tampilan hegemoni ekonomi, proteksi terselubung, imperialisme baru terselubung.

Ketiga hal di atas, menurut penulis, yang menjadi berhala baru bagi masyarakat dunia saat ini. Dalam berhala-berhala baru tersebut, masalah “Tuhan” dan “agama” hanya dianggap sebagai faktor pinggiran, bukan faktor pusat dan faktor penentu. Agama Islam tegas menyatakan keyakinan tauhid adalah faktor penjaga martabat manusia dari godaan dan gangguan berhala- berhala apa saja, di mana, dan kapan saja. Bagaimana dengan kita?
Wallaahu a’lam bishshawaab

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id

Syirik Modern dan Kuno

Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah ketika  mereka ditimpa bahaya, akan tetapi  mereka berbuat syirik  ketika  mereka dalam keadaan senang.

Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur'an
"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba  mereka  [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat yang  telah  Kami  berikan  kepada  mereka dan agar mereka (hidup)  bersenang-senang  [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya]." (Al-Ankabut: 65-66)
Ref : Dasar Memahami Tauhid, Syaikh At Tamimi

Keistimewaan Shalat


SHALATKU IBADATKU

MENGAPA SHALAT ITU ISTIMEWA

Shalat itu istimewa. Bahkan menurut hemat saya adalah yang paling istimewa diantara semua ibadah. Buktinya diantaranya adalah :
  • Yang pertama dihisab (dicek / diperhitungkan) pada hari kiamat adalah Shalat. Begitu menurut sebuah hadis shahih
  • Perintah Shalat diberikan langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW, bahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Ini terjadi saat Isra’ Mi’raj nabi Muhammad SAW.
  • Shalat tidak tergantikan. Ini perlu digaris bawahi sebagai sebuah ciri ke-khususan Shalat. Bandingkan dengan ibadah lain. Puasa bisa diganti bila berhalangan dengan alasan yang sesuai. Haji demikian juga, bahkan bisa dipindahkan ke orang lain untuk pelaksanaannya. Tapi hal ini tidak berlaku dalam Shalat. Shalat zuhur tidak dapat dikerjakan saat subuh dan juga tidak dapat ditunda hingga maghrib. Orang sakitpun wajib shalat bahkan jika hanya matanya saja yang sanggup dilakukan. Qasar dan jamak hanya berlaku dengan alasan khusus dan tidak bagi semua shalat (shalat subuh tidak memiliki jamak maupun qasar)
  • Perintah Allah adalah untuk “mendirikan” bukan “mengerjakan”.
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS.An-Nisaa’ 103)
Apa beda “mendirikan” dengan “mengerjakan” ?. Mendirikan dapat berarti merubah posisi dari semula tidak berdiri menjadi berdiri (misalnya jika anda mendirikan kursi yang rebah). Dapat juga berarti menjadikan sesuatu yang semula belum jadi (atau belum ada) menjadi berdiri tegak dan kokoh (misalnya mendirikan bangunan). Sedangkan mengerjakan artinya sama dengan melakukan sesuatu (baik tuntas maupun tidak). Si-A mengerjakan PR, maka ada tiga kemungkinan : 1. ia mengerjakan tapi tidak tuntas.
2. Ia mengerjakan dan tuntas, tapi belum tentu benar semua (bisa jadi karena si-A pemalas atau bodoh tapi terpaksa mengerjakan PR).
3 Ia mengerjakan, tuntas dan benar semua (ini berarti sama dengan mendirikan PR)
Dengan demikian dalam konteks bangunan, mendirikan bangunan berarti menjamin bangunan tersebut akan berdiri dengan baik (baca : kokoh, kuat dan bagus). Mengerjakan bangunan belum tentu sampai selesai, dan juga belum tentu seluruh bangunan. Adapun mendirikan tugas (misalnya PR) adalah melakukannya dengan sepenuh hati dan secermat mungkin sehingga kecil kemungkinan terjadi kesalahan.Umumnya kalimat dirikanlah shalat dibarengi dengan tunaikanlah zakat (apa tunaikan dengan bayarkan?). mengapa justru zakat, bukan puasa, atau ibadah lainnya, rasanya perlu ditelaah namun bukan disini tempatnya.
  • Shalat adalah ibadah yang sangat dekat dengan Allah. Beberapa pakar menyatakan bahwa shalat adalah mi’rajnya orang muslim. Dan ada yang menyatakan bahwa posisi rukuk merupakan posisi terdekat
  • Perhatikan firman berikut :
    • Kecelakaan bagi orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dari shalatnya (QS.Al-Maa’uun : 4 & 5).
    • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah : 183)
Ritual shalat begitu spesial bagi Allah sehingga ada murka-Nya disana. Orang yang shalat justru diancam (baca : celaka) jika shalat itu dilakukan tidak dengan benar adanya. Bagaimana shalat yang benar (supaya tidak celaka) ? Silahkan pelajari di banyak buku yang lebih lengkap mengenai hal ini. Namun intinya cukup satu : Jika shalat yang dilakukan itu benar adanya, maka sang pelaku shalat dan lingkungan sekitarnya akan merasakan pengaruhnya, karena shalat itu mencegah perbuatan keji (korupsi, menganiaya, merampas, jahat, kejam, dll) dan mungkar (egois, sombong, pelit, sok tahu, dll)

Mengapa Allahu akbar?

Setelah niat, maka kita takbir, “Allahu Akbar”. Ketika ruku juga “Allahu Akbar”, begitu juga sujud. Dan itu dilakukan hampir disetiap perubahan gerak (kecuali ketika dari ruku ke berdiri)Pertanyaannya, kenapa “Allahu Akbar” ? bukan “Subhanallah” atau Alhamdulillah” atau “Laa ilaaha illallaah” atau kalimat lainnya. Kenapa harus “Allahu Akbar” ?Allahu Akbar bagi saya diartikan tidak lagi sebagai Allah Maha Besar, tetapi “Allah terlalu besar”, begitu besar dalam semua hal – tanpa kecuali – sehingga hanya itu yang bisa dilakukan, yaitu mengucapkan “Allahu Akbar”. Kenapa berulangkali? Kenapa nyaris ditiap perubahan gerak ? Agar kita sadar sesadar-sadarnya bahwa Tuhan itu, Allah itu, begitu maha besar, setiap saat, setiap perubahan gerak (dalam shalat), setiap tarikan nafas (dalam hidup). Agar kita semua yakin dan makin merasa kerdil ketika mengucapkannya. Maka jadilah kita bergetar karena merasa Allah begitu terlalu hebat dan besar (Maha besar), bergetar karena mengakui begitu kerdil, kecil diri ini, bergetar karena begitu agung nama itu. “Allahu Akbar…”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS.Al-Anfaal 2)(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS.Al-Hajj 35)Maka barangsiapa yang shalat-nya belum sampai merasa gemetar, maka ia belum sampai dipengertian shalat yang sesungguhnya (perhatikan, berapa kali nama ALLAH disebut dalam satu rakaat?). Jadi wajar saja jika hingga berumur renta dan terus melakukan shalat tapi tindakan, tabiat, perilaku atau hasil kerja-nya sama sekali tidak memiliki cerminan dari shalat-nya. Itulah yang disebut shalat tanpa jiwa, itulah definisi seungguhnya shalat yang celaka. Tinggal kembali pada diri dan hati sendiri, sekeras apa hati ini mau menyadari dan menerima hal itu. 

Beberapa Kalimat dalam Takbiratul Ihram

Yang pertama adalah kalimat : Inni wajjahtu wajhiya fathoros samaawati wal ardho haniifan muslimaa wamaa ana minal musyrikiin (terjemah bebas saya : Inilah wajahku menghadap kehadirat-Mu, wahai penguasa Langit dan Bumi, sepenuh hatiku sebagai muslim yang ‘hanif’ dan aku bukan dari golongan musrik).
Lalu kalimat : Inna shalaati, wanusuki, wamaa yaaya, wa mamaati, lillahi rabbil ‘aalamiin (terjemah bebas saya : Sesungguhnya shalatku, ibadah-ku, hidup dan matiku, adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam).Betulkah itu? Betulkah kita seperti yang kita ucapkan? Atau sebenarnya kita sedang munafik kepada Tuhan? (na’udzubillahi mindzaalik). Jika hidup mati hanya untuk Allah, jika shalat dan ibadat adalah “lillaahi ta’ala” bagaimana bisa shalat itu dilakukan lewat dari waktu? Bukankah masuknya zuhur itu adalah tepat pada saat mendengar azan zuhur? Mengapa baru jam satu lewat, atau pukul setengah dua baru mengerjakan shalat? Itukah muslim yang ‘hanif’? Silahkan hati nurani menjawab sendiri.Muslim yang ‘hanif’ dengan sederhana diterjemahkan sebagai muslim yang mengabdi. Hidup mati, shalat ibadah hanya untuk Allah hanyalah perkataan lain (menurut saya) bahwa orang itu jelas-jelas menyatakan pengabdian total-nya. Orang yang mengabdi secara total tentulah langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Ambil contoh sederhana. Saya sebagai majikan punya seorang pembantu. Lalu saya berkata, “Mbok, tolong ambilkan sandal saya”. Tentulah yang diharapkan adalah bahwa si pembantu (yang mengabdi “secara total” tadi) segera mengambilkan sandal saya. Bagaimana perasaan sang Majikan jika sandal-nya diambilkan 2 jam kemudian atau bahkan tidak pernah diambilkan?Lagi-lagi, maka seyogyanya menjadi amat wajarlah ketika mengucap kalimat tersebut hati menjadi bergetar. Ketika dengan berani kita menyatakan langsung kepada Tuhan pemilik alam, mengatakan langsung secara berhadapan kepada yang menciptakan kita bahwa kita muslim yang ‘hanif’, bahwa kita ‘pengabdi total’ yang tulus. Bahwa kita tidak sedang terang-terangan berbohong kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan berbohong kepada diri sendiri sekaligus ketika mengucapkan itu.Maka bagaimana mungkin kita mengucapkan kalimat itu dengan begitu serentak, begitu cepat. Itu yang disebut (menurut istilah saya) shalat tanpa jiwa.Hingga sejauh ini pembahasan kita, maka sampailah saya pada kesimpulan sementara : Seyogyanya kita melakukan shalat dengan tuma’ninah dan khusyu’. Semestinya tidak pantas kita mengucap kalimat-kalimat seperti tadi tanpa menghadirkan hati. Bagaimana bisa seorang mengharap menjadi kesayangan Allah, atau sekedar diterima shalat-nya jika ia mengucapkan “inni wajjahtu…dst” tapi fikiran dan hatinya sibuk di tempat lain. Ini wajahku wahai Tuhan yang welas asih, kutundukkan dihadapan-Mu dengan hati yang berdebar, adakah Dikau berkenan atas diri kecil, atas diri kerdil ini.
Beranikah kau (saya dan anda) berhadapan langsung dengan sang pemimpin Kiamat, sang empunya siksa, sang Maha welas asih, sang “Allahu Akbar” dengan sesuka hati. Ngupil ketika shalat, garuk-garuk pantat, mengantuk, batuk-batuk atau apapun hal remeh-temeh lain Beranikah? Tidak takutkah dengan-Nya? Belum cukup-kah firman yang berkata,4.Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya (QS.Al-Maa’uun 4-6)
Fakta membuktikan betapa mereka shalat dengan rajin, hingga masa renta namun tidak beroleh apa-apa (atau mungkin bahkan celaka). Maka seyogyanya berhati-hatilah semua yang mengaku muslim ketika shalat, adakah shalat-nya hanya mendatangkan ‘celaka’ ataukah ‘maghfirah’ dan kecintaan dari-Nya. Wallahu ‘alam. 

Ayat ke-1 dan ke-3 Surah Al-Fatihah

Setelah takbiratul ihram, maka membaca surah Al-Fatihah. Apa yang menarik?Pertama bahwa kalimat basmallah yaitu “Bismillaahi rrahmaani rrahiim” itu adalah termasuk ayat ke-1 dalam surah Al-Fatihah.Sementara ayat keduanya adalah “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”. Baru dilanjutkan ayat ke-3 : “Arrahmaani rrahiim”.Pada surah-surah yang lain, kalimat “bismillahirrahmaani rrahiim” adalah merupakan kalimat pembuka (bukan bagian dari surah).Sekarang perhatikan artinya. “Bismillaahi rrahmaani rrahiim”. Arti sederhana-nya “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Atau saya kadang memberi terjemahan bebas : Dengan menyebut Nama Allah yang begitu welas asih.
Intinya adalah bahwa Allah itu pemurah. Berbelas kasih, begitu baik, penyayang, welas asih.Sekarang perhatikan ayat ke-3 (ayat kedua tidak dibahas disini) : Arrahmaani rrahiim. Artinya sama persis : Maha Pengasih dan Maha penyayang. Welas asih.Kenapa diulang? Pasti bukan untuk memperbanyak jumlah ayat. Pasti bukan karena tidak ada bahasan lain. Pasti ada sesuatu (yang menarik).Mari kita berpaling sejenak ke cerita penciptaan manusia. Ketika itu Allah berfirman pada malaikat bahwa akan diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan kemudian, ketika tercipta Adam AS, Allah berfirman agar semua bersujud (bukan dalam konteks menyembah) kepada Adam. Kecuali Iblis. Kenapa ? Karena ia merasa lebih baik dari adam (iblis dari api, adam dari tanah). Merasa lebih dari yang lain disebut sombong atau angkuh. Itulah dosa pertama di jagad raya dan murka Allah yang pertama diketahui.Perhatikan bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah. Iblis tidak menyekutukan Allah. Iblis “sekedar” sombong. Ia hanya merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam AS yang diciptakan dari tanah. Sama halnya kita merasa lebih baik karena memiliki jabatan daripada yang jabatannya dibawah kita. Sombong yang sama ketika kita merasa lebih baik karena lebih pintar, lebih cantik, lebih ganteng, lebih kaya, dll sementara yang lain kurang pintar, kurang ganteng, dll.Saat Iblis menolak perintah Allah, maka Allah langsung mengharamkan surga baginya dan melaknat masuk ke neraka. Itulah murka Allah.Tidak berpuasa tanpa alasan padahal sudah jelas diperintah, maka secara logika sederhana itu sudah cukup bagi Allah untuk mengharamkan surga dan melaknat dengan neraka. Sedekah, shalat dan semua perintah lain akan seperti itu juga konsekuensinya. Tapi satu hal harus digaris bawahi, bahwa kasih sayang Allah melampaui murka-Nya. Itulah maka perlu diyakini bahwa Allah itu Ar Rahmaan Ar Rahiim.Allah begitu Maha kasih, sehingga boleh kita berharap kasih dan mesranya. Begitu Maha Penyayang sehingga boleh kita berharap disayang oleh-Nya.Maka hemat saya, perhatikan betul ketika kita membaca ayat ke-1 dan ke-3 surah Al-Fatihah. Pemahaman dihati saat membaca ayat ke-1 akan dimantapkan oleh pemahaman atas ayat ke-3. 

Maaliki yaumiddiin

Ayat ke-4 adalah : Maaliki yaumid diin yang berarti Penguasa hari pembalasan.Sekarang perhatikan katayaum ad-diin (hari agama). Mengapa harus memakai ad-diin (agama)? Mengapa bukan yaumul hisab, atau yaumul qiyamah ? Ini yang jelas telah disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Yang menjadi inti adalah bahwa yaum ad-diin lebih menegaskan bahwa hari kiamat merupakan hari dimana esensi agama menjadi begitu jelas sehingga tidak ada pertanyaan dan keraguan atas agama. 

Tentang Shirath Al-Mustaqiim

Shirath Al-Mustaqim senantiasa diartikan sebagai : Jalan yang lurus. Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa jalan yang dimaksud adalah bagaikan jalan tol.
Perlu diperhatikan bahwa Al-Fatihah adalah ummul kitab atau induk kitab atau ummul quran. Artinya adalah semua ayat Al-Fatihah merupakan intisari / ringkasan / resume Al-Quran secara keseluruhan. Maka, dalam kaitan dengan ini, Sirath Al-Mustaqim tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah merupakan target point. Bila hidup, bayi, remaja, tua, mati kesemuanya merupakan checkpoint, maka shirath al-Mustaqim itulah target point. Destination (final point) adalah Surga dan keridhaan Allah.Sebagai target utama kehidupan, shirath mustaqim (jalan lurus) ini layak diperjuangkan. Apapun cara untuk bisa melewatinya dengan sempurna. Tapi seperti apa ciri dan kriteria shirath al-mustaqim ini ? Dijawab oleh ayat-ayat terakhir dengan sempurna yaitu :
  1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
  2. Jalan yang tidak dimurkai Allah SWT
  3. Jalan yang tidak sesat

Seluruh kriteria terpenuhi, maka itulah sirath al-mustaqim.Kata “Jalan” disini menurut hemat saya dapat berarti cara  Dalam bahasa inggris disebut “way” (bukan “road”). “The way of life” atau “where’s the will there’s the way” (dimana ada kemauan, disitu ada jalan) dalah pendekatan atas kata “jalan” yang bisa difahami sebagai cara. Maka ini maksudnya dengan cara apa kita menempuh kehidupan ini, jalan mana yang kita gunakan dalam mengarungi hidup ini. It’s all about the way, it’s all about the heart.Apa tujuan manusia hidup di dunia? Menjadi kaya? Menjadi sukses? Menjadi bahagia? Semua jawaban berujung di satu pintu yang bernama sirath al-mustaqim. Semua manusia menginginkan hidup yang penuh kenikmatan. Semua manusia tidak mau dimurkai Allah dan tentu tidak ingin tersesat. Maka bagi mereka yang sudah menikmati hidup (karena kaya, berpangkat, dll) perlu sadar bahwa 2 kriteria belum tercapai. Dan itu berbahaya.Bila jalan itu nikmat, maka itulah shirat al-mustaqim. Minuman keras juga nikmat, tapi itu dimurkai Allah, maka bukan shirath al-mustaqim. Bisa juga sudah nikmat dan juga sudah tidak dimurkai Allah, tapi ternyata sesat. Maka itu jelas juga bukan sirath al-mustaqim.

Tentang Surah Al-Ikhlas

Judul surah ini adalah Al-Ikhlas. Ikhlas berarti rela, ridho. Namun isi surah lebih merupakan penekanan atas ketauhidan Allah SWT.
Ada yang menyatakan bahwa membaca surah ini sebanyak 3 kali dengan tartil, maka ia sama dengan membaca seluruh Al-Quran. 

Adziim dan ‘A’laa

Ketika rukuk bacaannya adalah : “Subhaana Rabbiyal adziimi wa bihamdih”. Ketika sujud membaca : “Subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Beda tipis saja, tapi mengapa mesti diributkan?
Justru karena ini sangat esensial (paling tidak bagi saya sendiri).Mari kita lihat. Adziim berarti besar, sangat besar, super besar atau bisa juga dikatakan begitu hebat. Contoh kalimat adalah : Wallaahu dzuu fadhlin ‘adziim (QS.Al-Imran 174) artinya : Dan Allah mempunyai karunia yang begitu besar
sumber : http://suarahati.wordpress.com

Doa Sebagai Pertahanan Pertama dan Utama Orang Beriman



Oleh Mohammad Damami

Dewasa ini, bahkan kapan saja dan di mana saja, sering dijumpai manusia yang mengalami depresi kejiwaan. Sebab-sebab luar yang menekannya bermacam-macam, searah dengan problem-problem hidup yang dihadapi oleh setiap person orang. Sebenarnya, kejiwaan manusia itu cenderung sehat dan kuat. Apalagi agama, terutama agama Islam, telah memberikan bekal-bekal mental untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan kejiwaan manusia itu.

Kalau dilacak ke belakang, zamanyang pernah dijalani umat manusia meliputi zaman pertanian, zaman perdagangan, dan yang terakhir zaman komunikasi. Demikian secara umum pendapat Alvin Toffler. Zaman pertanian dibarengi dengan zaman nelayan dan peternakan. Zaman pertanian ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba guyub, rukun, berkumpul, dan bekerjasama. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri yang berujung pada kecenderungan sifat menindas relatif sangat tipis. Justru, kecenderungan saling memperhatikan kepentingan bersama dan saling melindungi adalah yang sangat tebal. Diduga pula, pada zaman seperti ini kesehatan kejiwaan manusianya relatif baik. Kebutuhan tiru-meniru untuk memperbaiki kehidupan masih setimbang dengan kebutuhan hidup sederhana menurut zaman itu.

Zaman perdagangan dimulai dari model barter (tukar barang), berlanjut pada perniagaan (jual-beli beralat tukar uang), dan berujung pada kegiatan industri (produksi barang dan jasa). Zaman perdagangan ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba pamrih, kerja-upah, untung-rugi, kaya-miskin, kuat-lemah, menang-kalah, dan penuh dengan persaingan. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri (individualisme) yang berujung pada kecenderungan sifat menindas menjadi makin menebal. Orang berkecenderungan untuk bersikap cuek (apriori) kepada nasib orang lain dan kalau perlu berusaha menghalangi orang lain agar tidak menjadi besar serta menjadi rival. Karena itu, diduga, zaman seperti ini akan mudah menyebabkan manusianya menjadi sakit kejiwaannya, yang satu pihak menjadi manusia penindas dengan segala macam atribut dan sifat buruknya, di pihak yang lain menyebabkan munculnya manusia yang merasa tertindas dengan segala akibat dan sifat negatifnya pula. Kecenderungan untuk tiru-meniru bukan lagi sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup secara wajar, melainkan justru berusaha saling mengintai untuk menjatuhkan lawan atau saingannya dan memenangkan persaingan untuk dirinya sendiri. Muncullah symbol-simbol kemewahan hidup dan budaya mercusuar sebagai tanda kesuksesan dalam persaingan.

Zaman komunikasi yang ditopang oleh zaman teknologi merupakan “zaman instrumen” yang dapat dimanfaatkan oleh zaman pertanian dan zaman perdagangan. Tetapi dalam praktiknya ternyata zaman perdagangan yang lebih memanfaatkannya. Oleh karena itu wajar kalau persaingan makin mengeras dan makin masif di satu sisi, di sisi lain daya tindas yang dibarengi meluasnya simbol-simbol kemewahan dan budaya mercusuar juga tampak nyata serta masif pula. Dalam zaman perdagangan yang ditopang zaman komunikasi seperti saat ini, tampak dengan jelas makin tidak sehatnya kejiwaan rnanusianya. Bagi pihak yang kaya-kuatuntung  besar-menang, hampir-hampir makin tak terkendali ketidaksehatan jiwanya. Seperti, mengunci, mengintervensi, memblokade, memboikot, membatasi, dan sebagainya terhadap pihak yang dianggap musuh atau rivalnya. Sebaliknya, pihak yang miskin-lemah-rugi-kalah, makin terluka dan frustrasi. Bagaimana seharusnya bagi orang beriman dalam suasana seperti itu?

Al-Qur’an menyatakan, orang beriman itu “berteman dekat” dengan Allah SwT. Karena memang, Allah SwT itu sangat dekat dengan manusia (Al-Baqarah [2]: 186; Qaf [50]: 16; Al-Waqi’ah [56]: 85). Orang beriman sangat yakin bahwa Allah SwT senantiasa “siap memberi kalau ada permohonan” (aplikasi sifat Rahman-Nya) dan senantiasa “telah memberi walaupun tidak ada permohonan” (aplikasi sifat Rahim-Nya). Orang beriman makin bertambah-tambah rasa yakinnya untuk benar-benar berteman dekat dengan Allah SwT, sebab Allah SwT menyatakan sendiri bahwa Dia siap memberi kalau ada permohonan atau doa, tentu saja doa yang bersungguh-sungguh yang dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya secara sungguh-sungguh dan memperdalam keimanannya terhadap-Nya secara bersungguh-sungguh pula (Al-Baqarah [2]: 186).

Hingar bingar kehidupan zaman komunikasi saat ini gampang sekali menyebabkan seseorang merasa “tersingkir” (tereliminasi), “kehilangan teman”, “kesepian”, “terasing”, “dingin”, “tidak berdaya”, “tidak bermasa depan”, “bingung”, “frustrasi”, “buntu”, dan “pesimis”. Dengan berteman dekat dengan Allah SwT, seseorang dapat berdialog lewat membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya bertaburan dengan nasihat, petunjuk, pengarahan, dan kabar gembira, yang dengan demikian itu orang beriman akan merasa “diorangkan”, “punya teman”, “di tengah keramaian”, “seperti di rumah sendiri”, “hangat”, “penuh kemampuan”, “bermasa depan cerah”, “mantap”, “tenang”, “mampu memecahkan masalah”, dan “optimis”. Begitulah, kira-kira gambarannya. Apakah penghayatan keimanan kita telah kita pertahankan lewat doa yang manfaatnya seperti itu?
Wallaahu a’lam bishshawaab.

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id

Khusyu’

                                                    Oleh Mohammad Damami


Salah satu tanda keberuntungan orang beriman adalah jika dalam shalatnya dapat dilaksanakan dengan khusyu’. Dalam  Al-Qur’an ditegaskan (Q.s. Al-Mu’minun [23]: 1-2): qad aflaha-‘l-mu’minuuna alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’uuna = Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka. Lalu banyak orang  bertanya, apa dan bagaimana yang disebut khusyu’ dalam shalat? Jawabannya memang bisa beragam. Salah satunya seperti yang dituliskan di bawah ini.

Dari segi bahasa, kata “khusyu’” berarti “tunduk” atau “merendah diri”. Artinya, perlakuan tunduk dan merendah diri tersebut didasarkan pada kesadaran bahwa  dirinya memang dalam posisi lebih lemah dan lebih banyak kekurangan, sedangkan yang dihadapi adalah pihak yang kuat dan jauh lebih sempurna. Dalam Al-Qur’an kata “khusyu’” ini selalu dikaitkan dengan masalah ketuhanan. Karena itu arti dari “khusyu’” adalah tunduk dan merendah diri secara penuh kesadaran. Sebab yang dihadapi adalah Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Sempurna.

Bagaimana seseorang dapat mencapai derajat khusyu’ dalam shalatnya? Ada beberapa syarat yang bersifat teknis yang perlu dilakukan kalau seseorang ingin mencapai derajat khusyu’ dalam shalat. Pertama, sadar peka-waktu. Artinya, shalat segera dikerjakan kalau memang waktu shalat telah masuk dan diusahakan awal waktu. Dalam sebuah Hadits dituliskan sebagai berikut: ‘an ‘abdillaahi-’bni mas’uudin radliya-’llaahu ‘anhu qaala saaltu rasuula-’llaahi alla-’llaahu ‘alaihi wa sal-lama ayyu-’l-’amali ahabbu ila-‘llaahi qaala ash-shalaatu ’alaa waqtihaa qultu tsumma ayyun qaala  al-jihaadu fii sabiili- ‘lllahi = Dari Abdullah bin Mas’ud ra (diceritakan bahwa) dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw:  Amal apa yang paling disukai Allah?” Rasulullah saw menjawab: “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Rasulullah saw menjawab: “Berbuat kebajikan kepada kedua orangtua”. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Rasulullah saw menjawab: “Berjuang di jalan Allah”,  (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Secara psikologis dapat ditebak, bahwa siapa saja peka-waktu terhadap  pekerjaan yang dihadapi, maka berarti dia menampakkan kesungguh-sungguhannya dan menunjukkan penghargaan terhadap apa yang akan dikerjakannya itu. Karena itu, rumah dekat masjid/musholla/langgar, kalender waktu shalat, alarm HP waktu shalat, dan membawa arloji sungguh diutamakan bagi seorang Mukmin.

Kedua, berjamaah. Kata orang-orang bijak, bahwa  beras menjadi putih karena antara butir-butir beras tersebut saling bergesekan satu dengan lain secara intensif ketika ditumbuk  atau ketika dimasukkan ke dalam mesin slep beras. Kondisi berjamaah demikian juga. Dalam berjamaah diatur shaf/ baris dan  kerekatannya. Setiap imam shalat sebelum takbir mulai shalat selalu mengatakan “shawwuu shufuufakum fa inna tashfiyata-’sh- shufuufi min tamaami- ’sh-shalaah” = Luruskan shaf-shafmu karena sesungguhnya lurusnya shaf-shaf itu dari tanda kesempurnaan  shalat. Dengan berjamaah, satu orang; Mukmin dengan Mukmin lainnya bisa saling belajar dan meniru tentang  kefasihan bacaan, ketenangan shalat, ketertiban shalat, kerapihan pakaian shalat, disiplin waktu shalat, dan sebagainya.  Dengan demikian, setiap orang Mukmin akan dapat menutup kekurangannya dalam melaksanakan shalat. Itulah antara lain  sebabnya pahala shalat berjamaah berlipat 27 (dua puluh tujuh) kali.

Ketiga, thuma’ninah. Artinya, shalat dilakukan dengan  penuh ketenangan, tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru. Cukup waktu. Khususnya, ketika ruku’, sujud, dan duduk di antara dua  sujud. Seperti diketahui, muatan shalat pada hakikatnya adalah doa yang memerlukan penghayatan.

Keempat, paham terjemahan bacaan. Bacaan dalam shalat bagian terbesar adalah pujian  dan doa. Semuanya dalam bahasa Arab. Karena itu, agar orang yang melakukan shalat memahami apa isi dari pujian dan doa  tersebut, maka perlu dipahami apa terjemahan dari ucapan pujian dan doa tersebut. Dengan memahami muatan bacaan, maka  makin mantaplah shalat seseorang.

Sebab, bacaan dalam shalat bukanlah pengucapan yang bersifat mekanis tanpa pesan, makna, dan tujuan yang jelas. Melainkan sebuah pengungkapan batin yang bersifat fungsional dan dihayati secara mendalam. Karena itu, apa saja yang dibaca seharusnya sudah dipahami isinya. Keharusan membaca teks yang berbahasa  Arab dalam shalat tidak seharusnya menipiskan keinginan untuk memahami isi bacaannya.

Kelima, hadir hati. Artinya, hati  perlu dikonsentrasikan penuh dalam menghayati gerakan dan bacaan shalat seluruhnya. Bahwa antara gerak shalat dan bacaan shalat ada ikatan yang saling menali (talitemali). Isi bacaan sangat mungkin dapat lebih ditangkap dengan pemahaman simbolik terhadap gerak shalat. Bacaan ruku’, misalnya, dapat lebih dipahami dan dihayati kalau orang makin mendalami makna simbolik dari gerak ruku’ yang dilakukannya. Di situlah hati akan hadir dan hati tidak akan terganggu oleh faktor-faktor lainnya.

Jadi, khusyu’ itu merupakan kondisi atau derajat batin yang disuasanai rasa tunduk dan merendah diri di hadapan Allah  SwT. Untuk meraihnya dapat dipakai cara-cara yang bersifat teknis yang 5 (lima) macamnya di atas. Insya Allah, kalau  kelima macam cara tersebut sungguh-sungguh dijalankan sebagaimana mestinya, rasa khusyu’ akan sangat mungkin diraih. Wallaahu a’lam bishshawaab.

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id

Bersyukur Adalah Tampilan Nyata Orang Beriman


Oleh Mohammad Damami

Tidak jarang orang memahami istilah “syukur” itu sedemikian sederhana dan pragmatis. Seolah-olah kalau ada orang mau berterima kasih kepada Allali SwT dan mengucapkan lafal “al-hamdu li- ’llaahi rabbi-’l-’aalamiin” sudah dianggap cukup untuk disebut sebagai orang yang “bersyukur”. Apakah demikian itu pengertian “syukur” kalau dilihat dari perspektif orang beriman?

Dari perspektif orang beriman, bangunan atau struktur tampilan “syukur” itu memiliki 2 (dua) komponen inti, yaitu komponen “kesadaran memiliki Tuhan” dan komponen “kesadaran mengelola diri sendiri”. Setiap komponen inti tersebut memiliki subkomponen yang mau tidak mau harus ada dan harus dimunculkan. Bagaimana penjelasan rincinya?

Komponen inti yang pertama, yaitu “kesadaran memiliki Tuhan”. Kesadaran ini sungguh-sungguh penting. Bahwa dalam hidup ini perlu disadari adanya pihak yang senantiasa menemani. Tetapi sekaligus mengawasinya, yaitu Tuhan, Allah SwT.

Bagi orang beriman, karena dia selalu merasa ditemani dan diawasi oleh Tuhan, Allah SwT, maka apa pun yang diusahakan dan dikerjakan merasa dirinya bukan satusatunya yang berusaha atau bekerja. Temannya dan pengawasnya, yaitu Allah SwT ikut andil besar terhadap keseluruhan usaha dan pekerjaannya itu. Karena itu, komponen inti yang pertama, yaitu “kesadaran memiliki Tuhan” mengandung subkomponen yang jumlahnya 2 (dua) saja, yaitu: “sadar berterima kasih” dan “sadar untuk terus berdoa/memohon” .

Kalau di atas dikatakan bahwa setiap usaha dan pekerjaan itu terdapat andil dari Allah SwT. Sekarang pertanyaannya adalah “apakah Allah SwT memerlukan bagian dari keberhasilan tersebut?” Hal ini dijawab sendiri oleh Allah SwT lewat Al-Qur’an yang berbunyi (Q.s. Luqman [31]: 12): wa man yasykur fa innamaa yasykuru li nafsihi wa man kafara fi inna-‘l-laahaa ghaniyyun hamiidun = Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya (sendiri), dan barangsiapa kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dengan pernyataan ayat ini, jelas ditunjukkan bahwa Allah SwT tidak minta bagian. Sebab Allah SwT adalah Dzat yang sudah Maha Kaya (ghaniyyun) dan yang sudah sangat Maha Terpuji. Karena itu, Allah SwT sudah tidak membutuhkan apa pun, termasuk pujian.

Selanjutnya, komponen inti yang kedua, yaitu “kesadaran mengelola diri sendiri”. Kesadaran ini sungguh-sungguh penting pula. Bahwa hidup kita, umatmanusia, senantiasa dipenuhi oleh bermunculannya keinginan. Keinginan yang paling tampak adalah keinginan memiliki dan keinginan menikmati. Keinginan memiliki ini meliputi jumlah/ kuantitas (misalnya tabungan uangnya banyak, rumahnya banyak, tanahnya luas, perusahaannya beranak-pinak, kesehatannya prima, dan sebagainya) dan mutu/ kualitas (misalnya terlihat indah, terdengar merdu, terbau harum, terasa enakmenyelerakan, terasa halus-empuk, terasa nyaman badan, terasa segar-bugar, terasa gembira-menyenangkan, terasa menyejukkan- menenangkan, dan sebagainya). Kalau berbagai keinginan ini dibiarkan, maka orang akan tergulung dan dipermainkan o.leh “sang keinginan” itu sendiri. Pada hakikatnya, justru keinginan itu sekedar energi dan semangat untuk melakukan gerak, usaha, dan bekerja, bukan sebagai tujuan. 0leh sebab itu, kalau sampai terjadi “sang keinginan” menjadi tujuan atau penyetirnya, maka kondisi seperti itu benarbenar terbalik secara hakiki.

Agar apa yang disebut “keinginan” di atas berjalan sebagaimana mestinya, wajar, dan proporsional, maka perlu 2 (dua) hal, yaitu: “membatasi medan keinginan” dan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Yang dimaksud dengan “membatasi medan keinginan” ini adalah bahwa bertambahnya jumlah keinginan itu tidak terbatas. Apa saja diingini, terutama yang menyangkut keinginan “memiliki” dan “menikmati”. Pembatasannya adalah dengan memilah dan memilih, mana keinginan yang benar-benar perlu. Untuk proses memilah dan memilih ini faktor penalaran harus difungsikan, bukan faktor perasaan yang menjadi acuan. Inilah yang disinggung Al-Qur’an sebagai berikut (Q.s. Al-A’raf [7]: 31): wa kuluu wa’asy-rabuu wa laa tusrifun innahu laa yuhibbu-‘l-musyrifiina = Dan makanlah serta minumlah dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.

Berkaitan dengan komponen inti yang kedua di atas, maka subkomponen yang harus ada adalah “membatasi medan keinginan” dan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Dua subkomponen ini perlu dilatihkan dan dibiasakan.

Berdasarkan uraian menyeluruh di atas, maka bagi seorang yang beriman, pengertian “syukur” yang perlu diresapi adalah bahwa dalam perjalanan hidup ini perlu “kesadaran memiliki Tuhan” (komponen inti yang pertama) dan “kesadaran untuk mengelola diri sendiri” (komponen inti yang kedua). Kesadaran memiliki Tuhan akan mempertajam “rasa terima kasih” dan “menyatakan doa dan permohonan” kepada Tuhan. Selanjutnya, kesadaran mengelola diri sendiri akan mempertajam “pembatasan medan keinginan” dan kesanggupan “menikmati secara maksimal hal yang dihadapi”. Jadi, bersyukur tidak sekedar mengucapkan hamdalah (“al-hamdu li-’llaahi rabbi-’l-’aalamiin”) saja. Perlu lebih dalam daripada itu. Bagaimana dengan Anda selama ini?l

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id