Sabtu, 18 Januari 2014

Rupa Menawan Bukan Jaminan


Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk (jasad) dan harta-harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati dan amalan kalian.”
Takhrij Hadits
1. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, (121/16, beserta syarah Imam An-Nawawi)
2. Imam Ahmad mengeluarkannya dalam Al Musnad (2/285,539)
3. Ibnu Majah dalam As Sunan, 2/1388, no. 4143
Hadits tersebut memaparkan bahwa ketakwaan seseorang tak akan dicapai hanya dengan amalan yang bersifat lahiriah (amalan yang nampak) semata, melainkan lebih urgen dari itu, ketakwaan seseorang dapat diraih dengan amalan hati berupa pengagungan kepada Allah Subhaana Wata’ala. khasyyah(rasa takut kepada-Nya, dan muraqabah (merasa selalu diawasi oleh-Nya), sebagaimana penuturan seorang ulama kenamaan, imam An-Nawawi.

Pun demikian halnya, bahwasanya Allah tidak akan melihat dan memperhatikan jasmani dan tata lahiriah para hamba, akan tetapi lebih dari itu semua. Dia melihat dan memperhatikan ke elokan hati setiap manusia. Karena hati merupakan tempat bersemayamnya ketakwaan, menjadi wadah sesuatu yang mulia, serta menjadi brangkas bagi ilmu pengetahuan. Disamping itu Allah juga hanya memperhatikan amalan yang dikerjakan oleh para hamba-Nya sebagaimana dilansir dalam sebuah ayat,
“barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya,” (Al Kahfi: 110)

sumber : http://sekitarislam.wordpress.com/ 

Saat Bumi Makin Panas


Allah menciptakan bumi lengkap dengan lapisan udaranya. Selain menyediakan oksigen untuk pernafasan manusia, udara juga berfungsi sebagai selimut yang menghangatkan bumi. Tanpa lapisan udara, bumi akan menjadi sangat panas di siang hari dan amat dingin di malam hari.
Saat matahari menyinari bumi, maka 25% panasnya akan dipantulkan partikel lain di atmosfer sehingga tak sampai ke bumi; 25%-nya lagi akan diserap awan; 45%-nya diserap permukaan bumi, baik daratan maupun lautan; dan yang 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Sedangkan saat malam hari, daratan dan lautan akan melepaskan cadangan panasnya sehingga bumi tetap hangat.
Namun sepertinya keseimbangan dan keserasian alam kini mulai terancam. Bukankah kita merasakan cuaca kini semakin panas? Gelombang laut makin tinggi sehingga nelayan dan kapal-kapal takut untuk berlayar. Banjir melanda beberapa tempat di dunia, sedangkan pada saat yang sama banyak wilayah justru dilanda kekeringan.

Perilaku manusia yang tak ramah lingkungan menjadi salah satu penyebabnya. Industrialisasi dan transportasi yang berkembang pesat membuat konsumsi bahan-nakar meningkat tajam. Akibatnya emisi gas buang hasil pembakaran pun meningkat. Dalam setahun, atmosfer bumi menerima 18,35 miliar ton kabon dioksida (18.350.000.000.000 kg). keberadaan gas ini di atmosfer mampu menghalangi keluarnya energi matahari untuk meninggalkan bumi. Pada saat yang sama, luas hutan yang mampu menyerap gas karbon dioksida terus berkurang. Akibatnya, suhu bumi pun semakin panas.
Rata-rata temperature permukaan bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperature ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celcius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuwan memperkirakan pada tahun 2100, suhu bumi akan meningkat hingga 1,4 – 5,8 °C (2,5 – 10,4 °F).
Jika suhu bumi terus meningkat, bukan hal mustahil jika es-es di kutub dan salju abadi di gunung-gunung tinggi akan mencair. Akibatnya permukaan laut akan naik, dan kehidupan di sepanjang pesisir pantai terancam kehancuran karna air laut akan lebih menjorok ke pantai. Bahkan pulau-pulau kecil kemungkinan bisa tenggelam.

sumber : http://sekitarislam.wordpress.com/

Supaya anak tidak menjadi Teroris


Betapa hancur hati kedua orang tua, tatkala dikabarkan kepada mereka ternyata anaknya – yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik dan pendiam – terciduk oleh aparat kepolisian karena terlibat jaringan terorisme. Orang tua yang lain pun shock begitu mendengar anaknya tewas dalam aksi peledakan. Sementara itu, teman-temannya serasa tidak percaya mendengar berita bahwa anak yang selama ini mereka kenal sebagai anak baik, supel, dan ramah, ternyata terlibat aksi terorisme!!
Demikianlah, betapa menyedihkan, ternyata jaringan terorisme telah berhasil menyeret anak-anak baik dari putra-putra kaum muslimin dalam aksi biadab yang bertentangan dengan agama dan akal sehat tersebut.
Tentunya, kita bertanya-tanya bagaimana anak-anak muslimin bisa terseret jaringan terorisme? Melalui pintu apa terorisme bisa masuk ke alam pikiran mereka sehingga mereka tertarik dan mau mengikutinya?
Pembaca, kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah …
Akar munculnya terorisme adalah dari paham sempalan khawarij. Suatu paham ekstrim dalam beragama, yang membuahkan sikap merasa benar sendiri, kemudian serampangan dalam memahami dan mengamalkan dalil-dalil syari’at lepas dari bimbingan para ‘ulama, yang berujung kepada pengkafiran semua pihak yang bertentangan dengan pendapatnya, termasuk mengkafirkan pemerintah kaum muslimin.
Gerakan terorisme yang pertama kali muncul dalam sejarah Islam adalah di akhir masa Khilafah ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallah ‘anhu, yang diprakarsai oleh seorang Yahudi, Abdullah bin Saba`, dengan menampilkan slogan keadilan dan benci kezhaliman. Sebagai korban pertama kali adalah sang khalifah Utsman bin ‘Affan sendiri! Kemudian semakin gencar pada masa Kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallah ‘anhu, yang beliau sendiri pun menjadi korban aksi terorisme tersebut. Merekalah kelompok sempalan khawarij, yang tumbuh menggerogoti dan menghancurkan Islam. Di atas paham mengkafirkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka, dan berlanjut menghalalkan darah mereka. Terutama pemerintah muslimin, yang telah mereka vonis sebagai pemerintah kafir. Itu semua mereka lakukan atas nama agama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jauh-jauh hari telah memberitakan kemunculan kelompok sesat ini, lengkap dengan ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
سَيَخْرُجُ فيِ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ البَرِيَّةِ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya. [HR. Al Bukhari 3611, 5057, 6930; Muslim 1066]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyifati mereka sebagai:
هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ
Mereka adalah sejahat-jahat makhluk. [HR. Muslim 1067]
Maka apabila pada anak-anak kaum muslimin ada kecenderungan mengkritisi pemerintah muslimin, selalu menentang kebijakan pemerintah muslimin, bahkan berani memvonis kafir terhadap pemerintah muslimin tanpa bimbingan para ‘ulama, maka hati-hati dan waspadalah! Ini merupakan bibit paham takfir (mudah mengkafirkan kaum muslimin), yang merupakan benih awal untuk seseorang berani menghalalkan darah pemerintah muslimin dan siapapun yang mereka anggap membela dan mendukung pemerintah. Pada ujungnya, mengantarkan mereka untuk berani melakukan aksi kekerasan yang dilabeli sebelumnya sebagai jihad. Inilah awal mula seorang terseret dalam aksi terorisme.
Kaum muslimin rahimakumullah…
Kesalahfatalan berikutnya, yang pada ujungnya menghantarkan anak-anak kaum muslimin untuk tertarik dengan gerakan terorisme adalah semangat berjihad yang besar dan kebencian yang besar terhadap orang-orang kafir, namun tidak disertai dengan pemahaman yang benar tentang apa itu jihad, bagaimana aturan Islam tentang masalah jihad, serta orang kafir manakah yang boleh untuk diperangi?
Tidak diragukan lagi, bahwa jihad merupakan puncak Islam yang tertinggi. Orang-orang kafir adalah musuh-musuh Islam yang harus dibenci dan diperangi oleh kaum muslimin. Namun, dalam agama Islam ada aturan dan tuntunan yang harus dipahami dengan benar dan tidak boleh dilanggar. Hal inilah yang tidak dipahami dengan baik oleh mereka yang terlibat dalam aksi terorisme tersebut. Karena memang di antara sifat dan ciri-ciri mereka adalah pendek akalnya dan cupet (Bhs. Jawa: dangkal) cara pandangnya. Tak heran bila aksi terorisme (baca: kebodohan) yang mereka lakukan tersebut merusak citra Islam dan mencemarkan nama baik kaum muslimin, terkhusus lagi nama baik orang-orang yang istiqamah di atas agamanya.
Sebagai contoh, bahwa dalam syari’at Islam tidak semua orang kafir boleh dibunuh.
Kafir Dzimmi, Kafir Mu’ahad, Kafir Musta’min dalam Islam jiwanya terlindungi tidak boleh dibunuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا
Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (surga). (Padahal) sesungguhnya aroma wangi al jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun. [HR. Al-Bukhari 3166, 6914; An-Nasa`i 4764; Ibnu Majah 2736; Ahmad V/36]
Adapun orang kafir yang boleh diperangi dan dibunuh adalah kafir harby, yaitu orang-orang kafir yang memerangi muslimin, tidak ada antara muslimin dengan mereka perjanjian, dzimmah, tidak pula jaminan keamanan.
Kita perlu waspada pula, apabila seorang mulai kagum dan mengidolakan tokoh-tokoh teroris semacam Usamah bin Laden, Aiman Azh-Zhawahiri, seraya menganggapnya sebagai tokoh ‘ulama besar yang diikuti ucapan dan fatwa-fatwanya. Sebagai contoh, pelaku peledakan bom Bali yang bernama Imam Samudra. Dia menganggap tokoh-tokoh teroris panutannya diatas sebagai ‘ulama dan menyejajarkannya dengan para ‘ulama besar Ahlus Sunnah. Padahal sifat dasar para khawarij pelaku aksi teror tersebut adalah sama sekali lepas dari bimbingan para ‘ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil syari’at.
Lebih rumit lagi, orang-orang yang terlibat dalam jaringan terorisme, ternyata bukanlah orang-orang yang jauh dari agama. Sebaliknya mereka adalah orang yang zhahirnya sangat dekat kepada agama, menampakkan syi’ar-syi’ar Islam dalam penampilan dan pakaian mereka, dan sangat rajin beribadah. Bahkan aksi teror yang mereka lakukan tersebut diyakini dalam rangka memperjuangkan Islam dan merupakan bagian dari ajaran Islam!!
Kaum muslimin rahimakumullah…
Sikap komitmen terhadap ajaran agama, berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah merupakan sikap yang harus kita jalankan. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menjauh atau apriori terhadap Islam dan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun sikap berpegang teguh terhadap agama tersebut harus berdasarkan manhaj (metode pemahaman) yang benar, dengan bimbingan para ‘ulama sejati dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Alhamdulillah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah meninggalkan umatnya di atas petunjuk yang sangat jelas. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan:
وَايْمُ اللهِ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ
Demi Allah, aku tinggalkan kalian di atas (agama) yang terang benderang. Kondisi malam dan siangnya sama. (HR. Ibnu Majah no.5. Ash-Shahihah no.688)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga telah menggariskan manhaj yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan agama ini, yaitu dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. (Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676. Ash-Shahihah no. 937)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda tentang jalan yang benar dalam memahami Islam:
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
Jalan/Prinsip yang Aku (Rasulullah) berada di atasnya dan juga para shahabatku. (At-Tirmidzi 2641, Ath-Thabarani I/256. Ash-Shahihah 203, 204)
Jika kita tidak memperhatikan prinsip di atas, akan menyebabkan salah dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil agama yang membuahkan sikap ekstrim dan menyimpang dalam beragama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mencela sikap ekstrim tersebut dalam sabda beliau:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
Binasalah orang-orang yang ekstrim, binasalah orang-orang yang ekstrim, binasalah orang-orang yang ekstrim. (Muslim 2670)

sumber : sekitarislam.wordpress.com (Dikutip dari http://www.assalafy.org/mahad/?p=334#more-334, versi mswordhttp://www.salafishare.com/id/31BEVLR7VU8K/Teroris1.doc)

Senin, 28 Januari 2013

Berikhtiar dengan Kesyirikan


Ia sudah berusah berobat ke setiap dokter, tapi Allah belrum menakdirkan kesembuhan orang ini lewat tangan-tangan para dokter tersebut. Akhirnya ia pergi kepada seseorang yang biasa bertawassul (mencari perantara), meminta bantuan, dan bertabarruk (mencari berkah) kepada para penghuni kubur. Lalu Allah menakdirkan kesembuhan untuknya lewat tangan paganis ini.
Apakah pergi kepada paganis ini diperbolehkan? Hal ini terulang beberapa kali; dan orang-orang menjadikannya sebagai ibrah (yang diikuti), serta tertanam dalam benak mereka bahwa si paganis bias menyembuhkan manusia dengan caranya berpa perbuatan-perbuatan menyekutukan Allah – kita berlindung kepada Allah dari berbuat syirik; apakah hukum agama mengenai hal ini?

Jawaban:
Diharamkan pergi kepada orang yang melakukan amalan-amalan syirik berupa berdoa kepada penghuni kubur dan meminta bantuan kepada mereka untuk meminta kesembuhan dengan doa dan ruqyahnya atau sejenisnya, walaupun sebagian orang mendapatkan manfaat darinya. Karena hal itu (hanyalah) adakalanya bertepatan dengan takdir, lalu disangka bahwa kesembuhan itu karena paganis ini. Adakalanya penyakitnya akibat perbuatan setan yang mengganggu supaya seseorang bertanya kepada orang-orang musyrik dan pergi (berobat/meminta pertolongan) kepada mereka. Manakalah ia bertanya kepada mereka, maka setan tidak mengganggunya lagi.

Sumber : http://sekitarislam.wordpress.com

Berfatwa Tanpa Ilmu



Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
“Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”
Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata kepada sebagian muridnya:
“Hati-hati engkau, (jangan, -pen.) mengucapkan satu masalah pun (dalam agama pen.) yang engkau tidak memiliki imam (salaf, -pen.) dalam masalah tersebut.”

Beliau rahimahullahu juga berkata dalam riwayat Al-Maimuni:
“Barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak ada imam atasnya, aku khawatir dia akan salah.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:
“Adapun para imam dan para ulama ahlul hadits, sungguh mereka semua mengikuti hadits yang shahih apa adanya bila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat, generasi sesudah mereka (tabi’in) atau sekelompok dari mereka. Adapun sesuatu yang disepakati oleh salafush shalih untuk ditinggalkan maka tidak boleh dikerjakan. Karena sesungguhnya tidaklah mereka meninggalkannya melainkan atas dasar ilmu bahwa perkara tersebut tidak (pantas, -pen.) dikerjakan.”
(An-Nubadz Fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 113-115)

sumber : http://sekitarislam.wordpress.com

Sabtu, 26 Januari 2013

Gerak Iman

                                          

Oleh Mohammad Damami

Seperti pernah penulis tulis dalam majalah ini beberapa waktu yang lalu, bahwa apa yang disebut “perubahan” tidak pernah  dapat dihindari dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia. Mau tak mau, suka atau tidak, siapa saja pasti akan   menghadapi apa yang disebut “perubahan” itu. Paling tidak ada 2 (dua) pilihan yang harus diputuskan ketika menghadapi   fenomena “perubahan”, yaitu bersikap pasif dalam menghadapinya dengan resiko akan ada kemungkinan digulung oleh “perubahan” itu sendiri, atau bersikap pro aktif dalam menghadapinya dengan keuntungan ada kemungkinan mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.

Pada hakikatnya, terjadinya seluruh perubahan di kalangan makhluk, manusia terutama,  adalah disebabkan adanya “gerak” di dalamnya. Apakah yang disebut “gerak” yang begitu menentukan dalam seluruh proses   perubahan tersebut?

Ada sekurang-kurangnya 3 (tiga) dimensi yang dipahami dan disadari oleh manusia, yaitu: ruang (space), waktu (time), dan kekuatan (energy). Jika dimensi ruang, waktu, dan kekuatan ini saling berkait dan dekerja, maka timbullah apa yang disebut “gerak” itu. Dimensi ruang dapat diukur lewat satuan-satuan ukuran (panjang, lebar, tinggi, besaran/volume, luas). Misalnya milimeter (mm), centimeter (cm), meter (m), hektare (ha), kilometer persegi (km), dan sebagainya. Sementara itu dimensi waktu diukur  lewat “pengertian waktu” (dahulu, sekarang, yang akan datang) atau lewat satuan-satuan ukuran (seperti   detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, millenium).

Sedangkan dimensi kekuatan diukur lewat satuan-satuan ukuran seperti ampere (A), watt (W), ohm (W) kecepatan cahaya (c), medan elektrik (E)t dan sebagainya. Sementara itu, dalam pengertian sederhana sehari-hari, disebutlah istilah-istilah “perubahanruang/tempat”,  “perubahan waktu”, “perubahan tenaga”, “perubahan keadaan/ kondisi”, “perubahan suasana”, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan “gerak” seperti disebutkan di atas, maka faktor dimensi kekuatan (energi) mestilah harus dikedepankan dan difungsionalisasikan secara nyata. Teknik praktis untuk memfungsionalisasikan dimensi kekuatan (energy) tersebut secara urut dan berjenjang meliputi: iradat/ kehendak, niat, rencana/planning, program, dan aksi. Pertama, iradat/kehendak. Asal iradat/kehendak ini adalah keinginan. Kehendak itu pada hakikatnya adalah hasil perasan dari berbagai keinginan yang berkembang. Jumlah iradat/kehendak ini sudah relatif lebih terbatas di bandingkan jumlah keinginan yang ncul yang tidak habis- habisnya. Kedua, niat. Niat pada hakikatnya adalah kehendak yang telah memuncak. Jumlahnya lebih sedikit lagi. Ketiga, rencana/planning. Rencana adalah penetapan berbagai niat yang mulai dinyatakan dalam tampilan, misalnya diucapkan atau dituliskan. Keempat, program. Program adalah rencana yang telah ditapis/dipilih dan disusun secara sistematis serta telah ditetapkan tahapan-tahapan pelaksanaannya berikut segala kemungkinan yang terjadi. Kelima, aksi. Aksi adalah pelaksanaan program sesuai dengan kisi-kisi yang termuat dalam program. Kelima hal inilah yang perlu diurutkan pelaksanaannya jika seseorang ingin menghasilkan “gerak” apa pun juga.

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari terdengar keluhan, bahwa dirinya telah gagal meraih sesuatu. Namun, setelah ditelusuri, ternyata orang yang bersangkutan baru melaksanakan beberapa komponen saja dari kelima komponen di atas. Misalnya, ada yang hanya sekedar memiliki iradat/ kehendak dan niat, tetapi dia gagal atau tidak bersemangat menyusul rencana/planning yang baik. Yang lain lagi ternyata  kegagalannya disebabkan tidak urutnya pelaksanaan dari kelima komponen di atas.Misalnya, ada orang punya iradat/kehendak, namun langsung dia lakukan aksi. Dia tidak mempedulikan komponen niat, rencana/ planning, apalagi program yang jelas.

Bagi orang beriman ada sebuah renungan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berbunyi demikian (Q.s. Al-Baqarah [2]: 225): laa yuaakhidzukumu-’l-laahu bi- ‘l-laghwi fii aimaani-kum wa laakin yuaakhidzukum bi maa kasabat quluubukum = Dia (Allah) tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu  sengaja. Tetapi Dia (Allah) akan menghukum kamu karena apa yang diperbuat hati-hati kamu. Yang dimaksud “apa yang  diperbuat hatihati kamu” di sini adalah niat. Karena itu, bagi orang beriman masalah niat menjadi hal yang begitu penting.  Dalam niat benih untuk “gerak” sudah mulai berjalan. Bak sebuah kerja mesin, maka roda-rodanya sudah mulai berputar antara  satu dengan yang lain. Tinggal meneruskan menjadi rencana/planning, program, dan akhirnya aksi. Karena itu pula, bagi orang  beriman memiliki “niat” itu penting sekali kalau ingin dirinya berubah. Orang beriman tidak sekadar dianjurkan agar kaya  keinginan atau hidup di bawah bayang-bayang mimpi saja, melainkan harus segera diperas menjadi iradat/kehendak dan tegas dalam bentuk niat.

Jika diteliti lebih mendalam, ternyata benar bahwa mulai dari komponen “niat” tumbuhnya energi secara  fungsional. Karena itu benarlah sabda Nabi yang mengatakan: innama-’l-a’maalu bi-’n-niyyati wa innamaa li-imri-in maa  na-waa = Bahwasanya segala amal itu tergantung niatnya dan bahwasanya bagi seseorang manusia tergantung apa yang telah  diniatkannya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Niat adalah kerja konkret hati. Di sinilah, mulainya gerak untuk mengubah  apa saja bagi diri manusia untukmasa-masa selanjutnya dalam hidup dan  kehidupannya. Orang beriman diberikesempatan  untuk melakukan “gerak” yang dinahkodai oleh niat yang ada dalam hatinya. Wallahu a’lam bishshawaab.

Hidup Menjaga Martabat


Oleh Mohammad Damami

Kehidupan dewasa ini sebenarnya merupakan daur ulang kehidupan masa lalu. Dalam Ilmu Sejarah dikatakan, bahwa sebenarnya sejarah manusia itu berulang, walaupun di sana-sini ada perubahan baru. Daur ulang yang berperubahan baru tersebut disebut daur spiral.

Pada zaman sebelum Al-Qur’an diturunkan di Makkah kepada Rasulullah Muhammad saw, orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan berdagang antara Yaman dan Syam (Syria) yang kota Makkah sebagaikota transitonya  (Quraisy [106]: 1- 2). Kehidupan berdagang pada waktu itu berlaugsung keras yang bercirikan persaingan antarsuku dan kafilah,  suasana wilayah Semenanjung Arab yang memiliki iklim yang sering kali ekstrem (kalau sedang beriklim panas, maka udaranya sangat panas dan kalau sedang beriklim dingin, maka udaranya sangat dingin), dan watak yang terbentuk yang serba keras seperti suka berperang, merampas kemerdekaan suku lain, mengurangi ukuran dan timbangan, dan sebagainya. Dalam kondisi kehidupan seperti itu, logis kalau banyak orang mencari berbagai macam cara agar keselamatan dalam kehidupan berdagangnya terjaga dan ketakutannya menghadapi segala macam cobaan hidup yang keras di atas menjadi menipis, bahkan sampai hilang sama sekali. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah menuju sesembahan berupa berhala yang dibuat dari bebatuan atau bahkan dari gundukan pasir (Majid ‘Ali Khan, Muhammad saw, 1985: 30). Jumlah berhala yang diletakkan mengelilingi bangunan Kakbah tidak kurang dari 360buah banyaknya, demikian menurut Majid ‘Ali Khan. Mula-mula berhala itu dianggap hanya sekedar “perantara” pormohonan kepada Tuhan, lama-lama berubah menjadi benda-benda yang dipertuhankan.

Ketika benda-benda berhala di atas telah dianggap sebagai “Tuhan”, pada hakikatnya potensi nalar masyarakat Arab waktu itu telah “mati”. Bayangan-bayangan metafisis dan kegaiban yang tidak jelas arahnya dan tidak jelas pula pengertiannya berseliweran dalam ruang batin masyarakat Arab waktu itu. Lalu oleh para sejarawan disebutlah dengan istilah zaman “ jahiliah”, zaman “kebodohan”. Dalam kondisi seperti ini dapat dikatakan manusia Arab pada waktu itu telah “jatuh martabatnya” di depan benda-benda berhala. Lebih tinggi martabat benda berhala dibandingkan dengan sifat kemanusiaan manusia Arab waktu itu.

Menghadapi realitas keyakinan yang sangat memerosotkan martabat kemanusiaan manusia seperti di atas, Allah SwT tidak menghendakinya terus-menerus terjadi. Maka, Allah SwT berkenan melenyapkan kondisi yang sangat tidak sewajarnya itu dengan menurunkan ajaran wahyu berupa perintah agar memegang teguh keyakinan tauhid (keyakinan meng-Esakan Allah SwT) dan hanya beribadah kepada Allah SwT yang bersifat gaib, yaitu berupa Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi serta Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh isi alam semesta ini (Quraisy [106]: 3). Dengan ajaran tauhid tersebut diputar kembali setinggi 180° dari posisi manusia yang begitu rendah di depan batu atau benda berhala menjadi berposisi luhur di depan makhluk apapun wujudnya di atas bumi ini, bahkan di ruang alam semesta yang luasnya tak terkira ini. Seluruh isi planet bumi ini diserahkan Allah SwT kepada manusia, terserah untuk keperluan apa dan diperlakukan seperti apa pun pula, asal bersitat ma’ruf, positif, konstruktif, dan produktif (Al-Baqarah [2]: 29).

Dewasa ini, awal abad ke-21 Masehi ini, tampaknya “berhala-berhala baru” bermunculan di sana-sini dalam kehidupan. Kalau diamati secara lebih mendalam, berhala- berhala baru tersebut meliputi, pertama, paham-paham atau isme-isme yang murni diproduksi oleh penalaran yang tidak/kurang dijiwai cahaya ketuhanan. Contohnya, seperti materialisme (paham yang menekankan keunggulan faktor-faktor material di atas hal-hal yang bersifat spiritual yang terkandung dalam metafisika, nilai, fisiologi, epistemologi, penjelasan historis; Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1996: 593), kapitalisme (paham yang menekankan peranan kapital/modal dalam produksi barang; Lorens Bagus, ibid.: 391), dan hedonisme (paham yang menyatakan bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia; Lorens Bagus, ibid.: 232). Kedua, ilmu pengetahuan dan anak kandungnya, yaitu teknologi. Contohnya, seperti teori (yang telah terbukti atau masih hipotetis), rumus (berupa dalil, postulat, aksioma), dan kerja istern (berupa metodologi, manajemen, dan analisis proses). Ketiga, aktivitas globalisasi. Perwujudan globalisasi menjurus pada perjuangan kepentingan yang bertopeng humanisme (semacam hak-hak asasi manusia/HAM, kelestarian lingkungan hidup, etika global) dalam tampilan hegemoni ekonomi, proteksi terselubung, imperialisme baru terselubung.

Ketiga hal di atas, menurut penulis, yang menjadi berhala baru bagi masyarakat dunia saat ini. Dalam berhala-berhala baru tersebut, masalah “Tuhan” dan “agama” hanya dianggap sebagai faktor pinggiran, bukan faktor pusat dan faktor penentu. Agama Islam tegas menyatakan keyakinan tauhid adalah faktor penjaga martabat manusia dari godaan dan gangguan berhala- berhala apa saja, di mana, dan kapan saja. Bagaimana dengan kita?
Wallaahu a’lam bishshawaab

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id

Syirik Modern dan Kuno

Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo'a secara ikhlas kepada Allah ketika  mereka ditimpa bahaya, akan tetapi  mereka berbuat syirik  ketika  mereka dalam keadaan senang.

Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur'an
"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba  mereka  [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat yang  telah  Kami  berikan  kepada  mereka dan agar mereka (hidup)  bersenang-senang  [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya]." (Al-Ankabut: 65-66)
Ref : Dasar Memahami Tauhid, Syaikh At Tamimi

Keistimewaan Shalat


SHALATKU IBADATKU

MENGAPA SHALAT ITU ISTIMEWA

Shalat itu istimewa. Bahkan menurut hemat saya adalah yang paling istimewa diantara semua ibadah. Buktinya diantaranya adalah :
  • Yang pertama dihisab (dicek / diperhitungkan) pada hari kiamat adalah Shalat. Begitu menurut sebuah hadis shahih
  • Perintah Shalat diberikan langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW, bahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Ini terjadi saat Isra’ Mi’raj nabi Muhammad SAW.
  • Shalat tidak tergantikan. Ini perlu digaris bawahi sebagai sebuah ciri ke-khususan Shalat. Bandingkan dengan ibadah lain. Puasa bisa diganti bila berhalangan dengan alasan yang sesuai. Haji demikian juga, bahkan bisa dipindahkan ke orang lain untuk pelaksanaannya. Tapi hal ini tidak berlaku dalam Shalat. Shalat zuhur tidak dapat dikerjakan saat subuh dan juga tidak dapat ditunda hingga maghrib. Orang sakitpun wajib shalat bahkan jika hanya matanya saja yang sanggup dilakukan. Qasar dan jamak hanya berlaku dengan alasan khusus dan tidak bagi semua shalat (shalat subuh tidak memiliki jamak maupun qasar)
  • Perintah Allah adalah untuk “mendirikan” bukan “mengerjakan”.
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS.An-Nisaa’ 103)
Apa beda “mendirikan” dengan “mengerjakan” ?. Mendirikan dapat berarti merubah posisi dari semula tidak berdiri menjadi berdiri (misalnya jika anda mendirikan kursi yang rebah). Dapat juga berarti menjadikan sesuatu yang semula belum jadi (atau belum ada) menjadi berdiri tegak dan kokoh (misalnya mendirikan bangunan). Sedangkan mengerjakan artinya sama dengan melakukan sesuatu (baik tuntas maupun tidak). Si-A mengerjakan PR, maka ada tiga kemungkinan : 1. ia mengerjakan tapi tidak tuntas.
2. Ia mengerjakan dan tuntas, tapi belum tentu benar semua (bisa jadi karena si-A pemalas atau bodoh tapi terpaksa mengerjakan PR).
3 Ia mengerjakan, tuntas dan benar semua (ini berarti sama dengan mendirikan PR)
Dengan demikian dalam konteks bangunan, mendirikan bangunan berarti menjamin bangunan tersebut akan berdiri dengan baik (baca : kokoh, kuat dan bagus). Mengerjakan bangunan belum tentu sampai selesai, dan juga belum tentu seluruh bangunan. Adapun mendirikan tugas (misalnya PR) adalah melakukannya dengan sepenuh hati dan secermat mungkin sehingga kecil kemungkinan terjadi kesalahan.Umumnya kalimat dirikanlah shalat dibarengi dengan tunaikanlah zakat (apa tunaikan dengan bayarkan?). mengapa justru zakat, bukan puasa, atau ibadah lainnya, rasanya perlu ditelaah namun bukan disini tempatnya.
  • Shalat adalah ibadah yang sangat dekat dengan Allah. Beberapa pakar menyatakan bahwa shalat adalah mi’rajnya orang muslim. Dan ada yang menyatakan bahwa posisi rukuk merupakan posisi terdekat
  • Perhatikan firman berikut :
    • Kecelakaan bagi orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dari shalatnya (QS.Al-Maa’uun : 4 & 5).
    • Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah : 183)
Ritual shalat begitu spesial bagi Allah sehingga ada murka-Nya disana. Orang yang shalat justru diancam (baca : celaka) jika shalat itu dilakukan tidak dengan benar adanya. Bagaimana shalat yang benar (supaya tidak celaka) ? Silahkan pelajari di banyak buku yang lebih lengkap mengenai hal ini. Namun intinya cukup satu : Jika shalat yang dilakukan itu benar adanya, maka sang pelaku shalat dan lingkungan sekitarnya akan merasakan pengaruhnya, karena shalat itu mencegah perbuatan keji (korupsi, menganiaya, merampas, jahat, kejam, dll) dan mungkar (egois, sombong, pelit, sok tahu, dll)

Mengapa Allahu akbar?

Setelah niat, maka kita takbir, “Allahu Akbar”. Ketika ruku juga “Allahu Akbar”, begitu juga sujud. Dan itu dilakukan hampir disetiap perubahan gerak (kecuali ketika dari ruku ke berdiri)Pertanyaannya, kenapa “Allahu Akbar” ? bukan “Subhanallah” atau Alhamdulillah” atau “Laa ilaaha illallaah” atau kalimat lainnya. Kenapa harus “Allahu Akbar” ?Allahu Akbar bagi saya diartikan tidak lagi sebagai Allah Maha Besar, tetapi “Allah terlalu besar”, begitu besar dalam semua hal – tanpa kecuali – sehingga hanya itu yang bisa dilakukan, yaitu mengucapkan “Allahu Akbar”. Kenapa berulangkali? Kenapa nyaris ditiap perubahan gerak ? Agar kita sadar sesadar-sadarnya bahwa Tuhan itu, Allah itu, begitu maha besar, setiap saat, setiap perubahan gerak (dalam shalat), setiap tarikan nafas (dalam hidup). Agar kita semua yakin dan makin merasa kerdil ketika mengucapkannya. Maka jadilah kita bergetar karena merasa Allah begitu terlalu hebat dan besar (Maha besar), bergetar karena mengakui begitu kerdil, kecil diri ini, bergetar karena begitu agung nama itu. “Allahu Akbar…”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS.Al-Anfaal 2)(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka. (QS.Al-Hajj 35)Maka barangsiapa yang shalat-nya belum sampai merasa gemetar, maka ia belum sampai dipengertian shalat yang sesungguhnya (perhatikan, berapa kali nama ALLAH disebut dalam satu rakaat?). Jadi wajar saja jika hingga berumur renta dan terus melakukan shalat tapi tindakan, tabiat, perilaku atau hasil kerja-nya sama sekali tidak memiliki cerminan dari shalat-nya. Itulah yang disebut shalat tanpa jiwa, itulah definisi seungguhnya shalat yang celaka. Tinggal kembali pada diri dan hati sendiri, sekeras apa hati ini mau menyadari dan menerima hal itu. 

Beberapa Kalimat dalam Takbiratul Ihram

Yang pertama adalah kalimat : Inni wajjahtu wajhiya fathoros samaawati wal ardho haniifan muslimaa wamaa ana minal musyrikiin (terjemah bebas saya : Inilah wajahku menghadap kehadirat-Mu, wahai penguasa Langit dan Bumi, sepenuh hatiku sebagai muslim yang ‘hanif’ dan aku bukan dari golongan musrik).
Lalu kalimat : Inna shalaati, wanusuki, wamaa yaaya, wa mamaati, lillahi rabbil ‘aalamiin (terjemah bebas saya : Sesungguhnya shalatku, ibadah-ku, hidup dan matiku, adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam).Betulkah itu? Betulkah kita seperti yang kita ucapkan? Atau sebenarnya kita sedang munafik kepada Tuhan? (na’udzubillahi mindzaalik). Jika hidup mati hanya untuk Allah, jika shalat dan ibadat adalah “lillaahi ta’ala” bagaimana bisa shalat itu dilakukan lewat dari waktu? Bukankah masuknya zuhur itu adalah tepat pada saat mendengar azan zuhur? Mengapa baru jam satu lewat, atau pukul setengah dua baru mengerjakan shalat? Itukah muslim yang ‘hanif’? Silahkan hati nurani menjawab sendiri.Muslim yang ‘hanif’ dengan sederhana diterjemahkan sebagai muslim yang mengabdi. Hidup mati, shalat ibadah hanya untuk Allah hanyalah perkataan lain (menurut saya) bahwa orang itu jelas-jelas menyatakan pengabdian total-nya. Orang yang mengabdi secara total tentulah langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Ambil contoh sederhana. Saya sebagai majikan punya seorang pembantu. Lalu saya berkata, “Mbok, tolong ambilkan sandal saya”. Tentulah yang diharapkan adalah bahwa si pembantu (yang mengabdi “secara total” tadi) segera mengambilkan sandal saya. Bagaimana perasaan sang Majikan jika sandal-nya diambilkan 2 jam kemudian atau bahkan tidak pernah diambilkan?Lagi-lagi, maka seyogyanya menjadi amat wajarlah ketika mengucap kalimat tersebut hati menjadi bergetar. Ketika dengan berani kita menyatakan langsung kepada Tuhan pemilik alam, mengatakan langsung secara berhadapan kepada yang menciptakan kita bahwa kita muslim yang ‘hanif’, bahwa kita ‘pengabdi total’ yang tulus. Bahwa kita tidak sedang terang-terangan berbohong kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan berbohong kepada diri sendiri sekaligus ketika mengucapkan itu.Maka bagaimana mungkin kita mengucapkan kalimat itu dengan begitu serentak, begitu cepat. Itu yang disebut (menurut istilah saya) shalat tanpa jiwa.Hingga sejauh ini pembahasan kita, maka sampailah saya pada kesimpulan sementara : Seyogyanya kita melakukan shalat dengan tuma’ninah dan khusyu’. Semestinya tidak pantas kita mengucap kalimat-kalimat seperti tadi tanpa menghadirkan hati. Bagaimana bisa seorang mengharap menjadi kesayangan Allah, atau sekedar diterima shalat-nya jika ia mengucapkan “inni wajjahtu…dst” tapi fikiran dan hatinya sibuk di tempat lain. Ini wajahku wahai Tuhan yang welas asih, kutundukkan dihadapan-Mu dengan hati yang berdebar, adakah Dikau berkenan atas diri kecil, atas diri kerdil ini.
Beranikah kau (saya dan anda) berhadapan langsung dengan sang pemimpin Kiamat, sang empunya siksa, sang Maha welas asih, sang “Allahu Akbar” dengan sesuka hati. Ngupil ketika shalat, garuk-garuk pantat, mengantuk, batuk-batuk atau apapun hal remeh-temeh lain Beranikah? Tidak takutkah dengan-Nya? Belum cukup-kah firman yang berkata,4.Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya (QS.Al-Maa’uun 4-6)
Fakta membuktikan betapa mereka shalat dengan rajin, hingga masa renta namun tidak beroleh apa-apa (atau mungkin bahkan celaka). Maka seyogyanya berhati-hatilah semua yang mengaku muslim ketika shalat, adakah shalat-nya hanya mendatangkan ‘celaka’ ataukah ‘maghfirah’ dan kecintaan dari-Nya. Wallahu ‘alam. 

Ayat ke-1 dan ke-3 Surah Al-Fatihah

Setelah takbiratul ihram, maka membaca surah Al-Fatihah. Apa yang menarik?Pertama bahwa kalimat basmallah yaitu “Bismillaahi rrahmaani rrahiim” itu adalah termasuk ayat ke-1 dalam surah Al-Fatihah.Sementara ayat keduanya adalah “Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin”. Baru dilanjutkan ayat ke-3 : “Arrahmaani rrahiim”.Pada surah-surah yang lain, kalimat “bismillahirrahmaani rrahiim” adalah merupakan kalimat pembuka (bukan bagian dari surah).Sekarang perhatikan artinya. “Bismillaahi rrahmaani rrahiim”. Arti sederhana-nya “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Atau saya kadang memberi terjemahan bebas : Dengan menyebut Nama Allah yang begitu welas asih.
Intinya adalah bahwa Allah itu pemurah. Berbelas kasih, begitu baik, penyayang, welas asih.Sekarang perhatikan ayat ke-3 (ayat kedua tidak dibahas disini) : Arrahmaani rrahiim. Artinya sama persis : Maha Pengasih dan Maha penyayang. Welas asih.Kenapa diulang? Pasti bukan untuk memperbanyak jumlah ayat. Pasti bukan karena tidak ada bahasan lain. Pasti ada sesuatu (yang menarik).Mari kita berpaling sejenak ke cerita penciptaan manusia. Ketika itu Allah berfirman pada malaikat bahwa akan diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dan kemudian, ketika tercipta Adam AS, Allah berfirman agar semua bersujud (bukan dalam konteks menyembah) kepada Adam. Kecuali Iblis. Kenapa ? Karena ia merasa lebih baik dari adam (iblis dari api, adam dari tanah). Merasa lebih dari yang lain disebut sombong atau angkuh. Itulah dosa pertama di jagad raya dan murka Allah yang pertama diketahui.Perhatikan bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah. Iblis tidak menyekutukan Allah. Iblis “sekedar” sombong. Ia hanya merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam AS yang diciptakan dari tanah. Sama halnya kita merasa lebih baik karena memiliki jabatan daripada yang jabatannya dibawah kita. Sombong yang sama ketika kita merasa lebih baik karena lebih pintar, lebih cantik, lebih ganteng, lebih kaya, dll sementara yang lain kurang pintar, kurang ganteng, dll.Saat Iblis menolak perintah Allah, maka Allah langsung mengharamkan surga baginya dan melaknat masuk ke neraka. Itulah murka Allah.Tidak berpuasa tanpa alasan padahal sudah jelas diperintah, maka secara logika sederhana itu sudah cukup bagi Allah untuk mengharamkan surga dan melaknat dengan neraka. Sedekah, shalat dan semua perintah lain akan seperti itu juga konsekuensinya. Tapi satu hal harus digaris bawahi, bahwa kasih sayang Allah melampaui murka-Nya. Itulah maka perlu diyakini bahwa Allah itu Ar Rahmaan Ar Rahiim.Allah begitu Maha kasih, sehingga boleh kita berharap kasih dan mesranya. Begitu Maha Penyayang sehingga boleh kita berharap disayang oleh-Nya.Maka hemat saya, perhatikan betul ketika kita membaca ayat ke-1 dan ke-3 surah Al-Fatihah. Pemahaman dihati saat membaca ayat ke-1 akan dimantapkan oleh pemahaman atas ayat ke-3. 

Maaliki yaumiddiin

Ayat ke-4 adalah : Maaliki yaumid diin yang berarti Penguasa hari pembalasan.Sekarang perhatikan katayaum ad-diin (hari agama). Mengapa harus memakai ad-diin (agama)? Mengapa bukan yaumul hisab, atau yaumul qiyamah ? Ini yang jelas telah disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Yang menjadi inti adalah bahwa yaum ad-diin lebih menegaskan bahwa hari kiamat merupakan hari dimana esensi agama menjadi begitu jelas sehingga tidak ada pertanyaan dan keraguan atas agama. 

Tentang Shirath Al-Mustaqiim

Shirath Al-Mustaqim senantiasa diartikan sebagai : Jalan yang lurus. Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa jalan yang dimaksud adalah bagaikan jalan tol.
Perlu diperhatikan bahwa Al-Fatihah adalah ummul kitab atau induk kitab atau ummul quran. Artinya adalah semua ayat Al-Fatihah merupakan intisari / ringkasan / resume Al-Quran secara keseluruhan. Maka, dalam kaitan dengan ini, Sirath Al-Mustaqim tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah merupakan target point. Bila hidup, bayi, remaja, tua, mati kesemuanya merupakan checkpoint, maka shirath al-Mustaqim itulah target point. Destination (final point) adalah Surga dan keridhaan Allah.Sebagai target utama kehidupan, shirath mustaqim (jalan lurus) ini layak diperjuangkan. Apapun cara untuk bisa melewatinya dengan sempurna. Tapi seperti apa ciri dan kriteria shirath al-mustaqim ini ? Dijawab oleh ayat-ayat terakhir dengan sempurna yaitu :
  1. Jalan yang penuh nikmat didalamnya
  2. Jalan yang tidak dimurkai Allah SWT
  3. Jalan yang tidak sesat

Seluruh kriteria terpenuhi, maka itulah sirath al-mustaqim.Kata “Jalan” disini menurut hemat saya dapat berarti cara  Dalam bahasa inggris disebut “way” (bukan “road”). “The way of life” atau “where’s the will there’s the way” (dimana ada kemauan, disitu ada jalan) dalah pendekatan atas kata “jalan” yang bisa difahami sebagai cara. Maka ini maksudnya dengan cara apa kita menempuh kehidupan ini, jalan mana yang kita gunakan dalam mengarungi hidup ini. It’s all about the way, it’s all about the heart.Apa tujuan manusia hidup di dunia? Menjadi kaya? Menjadi sukses? Menjadi bahagia? Semua jawaban berujung di satu pintu yang bernama sirath al-mustaqim. Semua manusia menginginkan hidup yang penuh kenikmatan. Semua manusia tidak mau dimurkai Allah dan tentu tidak ingin tersesat. Maka bagi mereka yang sudah menikmati hidup (karena kaya, berpangkat, dll) perlu sadar bahwa 2 kriteria belum tercapai. Dan itu berbahaya.Bila jalan itu nikmat, maka itulah shirat al-mustaqim. Minuman keras juga nikmat, tapi itu dimurkai Allah, maka bukan shirath al-mustaqim. Bisa juga sudah nikmat dan juga sudah tidak dimurkai Allah, tapi ternyata sesat. Maka itu jelas juga bukan sirath al-mustaqim.

Tentang Surah Al-Ikhlas

Judul surah ini adalah Al-Ikhlas. Ikhlas berarti rela, ridho. Namun isi surah lebih merupakan penekanan atas ketauhidan Allah SWT.
Ada yang menyatakan bahwa membaca surah ini sebanyak 3 kali dengan tartil, maka ia sama dengan membaca seluruh Al-Quran. 

Adziim dan ‘A’laa

Ketika rukuk bacaannya adalah : “Subhaana Rabbiyal adziimi wa bihamdih”. Ketika sujud membaca : “Subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Beda tipis saja, tapi mengapa mesti diributkan?
Justru karena ini sangat esensial (paling tidak bagi saya sendiri).Mari kita lihat. Adziim berarti besar, sangat besar, super besar atau bisa juga dikatakan begitu hebat. Contoh kalimat adalah : Wallaahu dzuu fadhlin ‘adziim (QS.Al-Imran 174) artinya : Dan Allah mempunyai karunia yang begitu besar
sumber : http://suarahati.wordpress.com

Doa Sebagai Pertahanan Pertama dan Utama Orang Beriman



Oleh Mohammad Damami

Dewasa ini, bahkan kapan saja dan di mana saja, sering dijumpai manusia yang mengalami depresi kejiwaan. Sebab-sebab luar yang menekannya bermacam-macam, searah dengan problem-problem hidup yang dihadapi oleh setiap person orang. Sebenarnya, kejiwaan manusia itu cenderung sehat dan kuat. Apalagi agama, terutama agama Islam, telah memberikan bekal-bekal mental untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan kejiwaan manusia itu.

Kalau dilacak ke belakang, zamanyang pernah dijalani umat manusia meliputi zaman pertanian, zaman perdagangan, dan yang terakhir zaman komunikasi. Demikian secara umum pendapat Alvin Toffler. Zaman pertanian dibarengi dengan zaman nelayan dan peternakan. Zaman pertanian ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba guyub, rukun, berkumpul, dan bekerjasama. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri yang berujung pada kecenderungan sifat menindas relatif sangat tipis. Justru, kecenderungan saling memperhatikan kepentingan bersama dan saling melindungi adalah yang sangat tebal. Diduga pula, pada zaman seperti ini kesehatan kejiwaan manusianya relatif baik. Kebutuhan tiru-meniru untuk memperbaiki kehidupan masih setimbang dengan kebutuhan hidup sederhana menurut zaman itu.

Zaman perdagangan dimulai dari model barter (tukar barang), berlanjut pada perniagaan (jual-beli beralat tukar uang), dan berujung pada kegiatan industri (produksi barang dan jasa). Zaman perdagangan ini ditandai dengan kehidupan yang diwarnai serba pamrih, kerja-upah, untung-rugi, kaya-miskin, kuat-lemah, menang-kalah, dan penuh dengan persaingan. Dalam zaman seperti ini diduga kecenderungan mementingkan diri sendiri (individualisme) yang berujung pada kecenderungan sifat menindas menjadi makin menebal. Orang berkecenderungan untuk bersikap cuek (apriori) kepada nasib orang lain dan kalau perlu berusaha menghalangi orang lain agar tidak menjadi besar serta menjadi rival. Karena itu, diduga, zaman seperti ini akan mudah menyebabkan manusianya menjadi sakit kejiwaannya, yang satu pihak menjadi manusia penindas dengan segala macam atribut dan sifat buruknya, di pihak yang lain menyebabkan munculnya manusia yang merasa tertindas dengan segala akibat dan sifat negatifnya pula. Kecenderungan untuk tiru-meniru bukan lagi sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup secara wajar, melainkan justru berusaha saling mengintai untuk menjatuhkan lawan atau saingannya dan memenangkan persaingan untuk dirinya sendiri. Muncullah symbol-simbol kemewahan hidup dan budaya mercusuar sebagai tanda kesuksesan dalam persaingan.

Zaman komunikasi yang ditopang oleh zaman teknologi merupakan “zaman instrumen” yang dapat dimanfaatkan oleh zaman pertanian dan zaman perdagangan. Tetapi dalam praktiknya ternyata zaman perdagangan yang lebih memanfaatkannya. Oleh karena itu wajar kalau persaingan makin mengeras dan makin masif di satu sisi, di sisi lain daya tindas yang dibarengi meluasnya simbol-simbol kemewahan dan budaya mercusuar juga tampak nyata serta masif pula. Dalam zaman perdagangan yang ditopang zaman komunikasi seperti saat ini, tampak dengan jelas makin tidak sehatnya kejiwaan rnanusianya. Bagi pihak yang kaya-kuatuntung  besar-menang, hampir-hampir makin tak terkendali ketidaksehatan jiwanya. Seperti, mengunci, mengintervensi, memblokade, memboikot, membatasi, dan sebagainya terhadap pihak yang dianggap musuh atau rivalnya. Sebaliknya, pihak yang miskin-lemah-rugi-kalah, makin terluka dan frustrasi. Bagaimana seharusnya bagi orang beriman dalam suasana seperti itu?

Al-Qur’an menyatakan, orang beriman itu “berteman dekat” dengan Allah SwT. Karena memang, Allah SwT itu sangat dekat dengan manusia (Al-Baqarah [2]: 186; Qaf [50]: 16; Al-Waqi’ah [56]: 85). Orang beriman sangat yakin bahwa Allah SwT senantiasa “siap memberi kalau ada permohonan” (aplikasi sifat Rahman-Nya) dan senantiasa “telah memberi walaupun tidak ada permohonan” (aplikasi sifat Rahim-Nya). Orang beriman makin bertambah-tambah rasa yakinnya untuk benar-benar berteman dekat dengan Allah SwT, sebab Allah SwT menyatakan sendiri bahwa Dia siap memberi kalau ada permohonan atau doa, tentu saja doa yang bersungguh-sungguh yang dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya secara sungguh-sungguh dan memperdalam keimanannya terhadap-Nya secara bersungguh-sungguh pula (Al-Baqarah [2]: 186).

Hingar bingar kehidupan zaman komunikasi saat ini gampang sekali menyebabkan seseorang merasa “tersingkir” (tereliminasi), “kehilangan teman”, “kesepian”, “terasing”, “dingin”, “tidak berdaya”, “tidak bermasa depan”, “bingung”, “frustrasi”, “buntu”, dan “pesimis”. Dengan berteman dekat dengan Allah SwT, seseorang dapat berdialog lewat membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya bertaburan dengan nasihat, petunjuk, pengarahan, dan kabar gembira, yang dengan demikian itu orang beriman akan merasa “diorangkan”, “punya teman”, “di tengah keramaian”, “seperti di rumah sendiri”, “hangat”, “penuh kemampuan”, “bermasa depan cerah”, “mantap”, “tenang”, “mampu memecahkan masalah”, dan “optimis”. Begitulah, kira-kira gambarannya. Apakah penghayatan keimanan kita telah kita pertahankan lewat doa yang manfaatnya seperti itu?
Wallaahu a’lam bishshawaab.

sumber : http://www.muhammadiyah.or.id